Asas perj ada 4, yaitu : 1. Asas Konsensualisme / consensualisme : Perj ada krn ada “perjumpaan kehendak (consesnsus) bebas” para yg membuatnya tanpa melihat bentuk atau formalitas tertentu. Perj. lisan sah bagi pihak yg membuatnya, jika ada sangkalan maka dapat mengajukan saksi yg menyaksikan dan mendengar kesepakan lisan tsb. 2.Asas Kekuatan mengikat (verbindendekracht der overeenkomst) : Perj yg dibuat para pihak mengikat dan berlaku bagi para pihak seolah undang-undang (Psl 1338 ayat 1 kuhper – Adagium : pacta sun servanda). 3. Asas Kebebasan berkontrak (contractsvrijheid) : Para pihak bebas menentukan bentuk dan isi suatu perj. dg syarat : tdk bertentangan dg uu yg sifatnya memaksa / dwingendrecht, ketertiban umum dan kesusilaan. 4. Asas Keseimbangan / evenwichtsbeginsel : Kuhper yg dibuat penjajah Belanda sesuai dg tata nilai n falsafah hukum barat perlu disesuaikan dg kesadaran hukum (adat) bangsa Indonesia yaitu gotong royong, kekeluargaan, rukun, patut dan laras. Dlm praktek peradilan di Indonesia asas keseimbangan yg dikaitkan dg rasa keadilan masy sdh diterapkan, misalnya : dlm hal bunga pinjaman uang yg melebihi bunga bank pemerintah maka atas permintaan pihak yg dirugikan, besaran bunga dpt direview oleh hakim, perj yg memuat klausula standard / baku al perjanjian leasing, perjanjian kredit bank, dan polis asuransi dpt juga direview hakim atas permintaan pihak yg dirugikan.