HUKUM PERJANJIAN

(Disadur dari Fred B.G. Tumbuan)
3 asas hkm perikatan : kebebasan berkontrak (bentuk /vorm dan isi/inhoud), kekuatan mengikat perj (verbidende kracht van de overeenkomat), hanya mengikat para pihak (psl 1315 dan 1340 kuhper). Pengecualian : ada perj formal /formale contracten dan perj riil / reele contracten. Cth perj formal : hibah saham hrs dg akta otentik (psl 1682 jo 1687 kuhper). Tujuan hibah dg akta otentik utk melindungi para pihak, beda klu mendirikan pt hrs dg akta otentik tujuannya utk melindungi pihak ketiga (psl 38 dan 39 kuhd).
Perj. Riil ialah perj yg baru lahir apabila benda / zaak yg menj objk perj diserahkan / levering. Keharusan menyerahkan brng merp. syarat mutlak disamping sepakat. Dkl kata sepakat tdk cukup. Mis a dan b sepakat blm depan b pinjam buku milik a, selama buku blm diserahkan maka perj a dan b blm sah. Mengenai isi perj. ada ketn. fakuktatif / aanvullend recht dan ada ketn yg memaksa / dwinvend recht. Mis psl 1583 kuhper : perbaikan kecil pd rmh yg disewa menjadi tanggungjawab penyewa. Tapi boleh dijanjikan perbaikan besar jg jd tj penyewa. Ketn yg memaksa mis masa percobaan bg buruh adlh 3 bln. Perj yg melanggar keten yg memaksa tdk sah dan batal karena hukum. Perj jg dpt batal karena tdk memp sebab yg halal / geoorloofde oorzak (psl 1320 ayat 4 kuhperd). Hub antr asas kebebasan berkontrak dg asas kekuatan mengikat perj / verbindende kracht van de overeenkomst ialah pembuat uu memberi kebebasan kpd para pihak utk mengatur sendiri hub hkm antara mereka melalui perj sekaligus memberikan kekuatan hkm yg mengikat terhdp isi perj / pacta sunt servanda. Hanya perj sah yg mengikat. Perj yg cacad krn tdk adanya sebab yg halal atau tdk adanya kata sepakat tdk memp. kekuatan hkm mengikat (Psl 1320 kuhper). Perj itu dibatasi oleh itikad baik dan keadaan memaksa. Perj itu sah jika dilaksanakan dg itikad baik. Itikad baik artinya perj itu dpt dilaksanakan apabila ada kewajaran dan kepatutan. (Vide psl 1339 kuhper : perj itu tdk sj mengikat urk hal2 yg secara tegas dinyatakan tetapi jg utk segala sesuatu yg menurut sifat perj diharuskan oleh kepatutan, kebiasaan atau undang2). Bila perj tdk ditaati maka pihak yg dirugikan dpt menempuh upaya hkm yaitu : menuntut pelaksanaan perj, menuntut ganti rugi dan me nuntut pembatalan perj bila perj itu adalah perj timbal balik / wederkerige overeenkomst. Keadaan memaksa baru ada apabila memenuhi 2 syarat yaitu pelaksanaan tdk mungkin krn ada halangan dan halangan itu bukan salah debitur. (Vide psl 1235, 1244, 1245, 1444 kuhper). Contoh A memp kewajiban menyerahkan baju yg dibelinya dr B pd waktu tertentu. Sebelum diserahkan baju terbakar maka kewjaiban A kpd B tetap ada karena A dpt mendapatkan baju yg sama dr pihak lain. Jika yg dijanjikan adalah lukisan Afandi yg sbelum diserahkan terbakar maka tdk mungkin lg A memenuhi kew.nya kpd B krn terdpt ketidakmungkinan mutlak. Psl 1444 kuhperd mengatur 3 memungkinan lain yaitu ketidakmungkinan praktis (praktische onmogelijkheid), ketidakmungkinan krn uu (wettelijke onmogelijkheid) dan ketidakmungkinan moral (morele onmogelijkheid). Contoh ketidammungkinan praktis : jika lukisan Afandi dicuri di rumah A pd tengah malam maka tdk mungkin diserahkan kpd B. Ketidakmungkinan krn undang2 mis tenyata kemudia ada larangan mengekport lukisan Afandi ke luar negeri. Ketidamungkinan moral berhub dg keselamatn pribadi, kebebasan atau kehormatan. Mis A tdk mungkin mempertaruhkan nyawanya utk menyelamatkan lukisan Afandi dari rumahnya yg sedang diamuk api. Jika kewajiban dpt dilakukan dg lebih dr satu cara maka walaupun ada halangan kew. itu tetap ada, contoh kew A mengntar sapi ke bandung terhalangi oleh karena jln ke bandung longsor sehingga tdk bisa dialalui oleh truk, maka dpt ditempuh cara lain yaitu melalui kereta api walaupun lebih mahal. Meskipun ada halangan tp jika halangan itu dpt dipertanggungjawabkan kpd debitur maka tdk ada keadaan memaksa. Suatu halangan dpt dipertanggjawabkan kpd debitur apabila : pertama halangan tsb terjadi karena kesalahan debitur (psl 1235 kuhper) atau kedua halangan tsb memang wajar sebagai resiko (mis A pemilik toko mebel hendak menyerahkan kursi yg telah dibeli kpd B, kemudian toko mebel / kursi terbakar karena kelalaian C yg menjadi pegawai A maka A tetap memp. kewj mengganti kerugian kpd B. Jika halangan memenuhi kewj terjadi dlm masa debitur cidera janji maka kewj itu tetap ada mis : A berjanji menyerahkan kursi kpd B pd tgl 1 agustus, tdk dilakukan kemudian pd tgl 2 agustus kursi terbakar maka A tetap bertnggungjawab atas kerugian B (psl 1237, 1444 ayat 1 kuhper /pengecualian pd psl 1444 ayat 2 kuhper).

Keadaan memaksa tdk pdt dipakai sebagai alasan tdk memenuhi perj jika :
1. Ada salahnya debitur.
2. Jika ada resiko yg menjadi tanggungjawab debitur mis kesalahan pegawai atau kesalahan pihak lain sbg jasa pengangkut barang.
3. Halangan pd masa cidera janji.
4. Halangan berprestasi sdh diketahui terlebih dahulu oleh debitur mis debitur sdh mengetahui bahwa akan ada aturan yg melarang ekport barang tertentu ke LN tp tetap saja membuat perj dg pihak lain.
5. Halangan krn alat atau sarana yg dipakai cacad mis : mengirim barang 10 ton pakai truk yang maks muatnnya 5 ton maka jika dlm perj. as truk patah maka itu bukan halangan memenuhi perj tepat waktu.

Keadaan memaksa dlm kuhper bersifat fakultatif jd dpt disimpangi dlm perj yg dibuat. Kebebasan mereka hanya dibatasi oleh : pertama penyebabnya yg hrs halal (geoorloofde oorzaak / psl 1335, 1337 kuhper), kedua ada itikad baik / psl 1338 kuhper). Contoh : A janji mengekspor 100 patung Bali ke B di Jerman, ternyata kemudian ada larangan oleh pemerintah, tp dlm perj sdh ada ketentuan bahwa “export dijamin maka A wajib memberi ganti rugi kpd B krn sdh disepakati. Contoh lain jika A janji membangun rmh B, dlm perj disepakati jika terjadi hambatan berkenaan dg pembelian bahan bangunan oleh A maka keadaan demikian merupakan keadaan yg memaksa. Psl 1391 kuhper : seorang debitur bertanggungjawab atas kesalahan/kelalaian dari pihak ketiga yg jasanya dipakai utk melaksanakan suatu perj, maka tdk ada keadaan memaksa. Tetapi jika disepakati maka A dpt dibebaskan dr tanggungjawab karena keterlambatan pemb rmh dll. Disini dijumpai perluasan pengertian keadaan memaksa. Sifat halangan sangat besar pengaruhnya atas akibat keadaan memaksa. Apabila halangan tsb bersifat mutlak maka debitur utk selamanya maka debitur tdk wajib melaksanakan perj yg ia buat. Kebalikannya jika keadaan memaksa bersifat sementara maka sesudah berakhirnya keadaan memaksa debitur wajib melaksanakan perj itu.

Perj mengikat para pihak, tdk mengikat pihak ketiga, pembebanan pd pihak ketiga pd dasarnya hanya menjadi wewenang pembuat uu (psl 1315 dan 1340 kuhper). Semua asas itu ada pengecualian demikian jg asas perj hanya mengikat para pihak ada pengecualiannya. Contoh : janji utk kepentingan pihak ketiga.

Tinggalkan komentar